Infrastruktur Katastropi


Bangunan rima dan dentuman 'beat box', potongan 'sample' dan gesekan 'scratch', semprotan 'pylox' dan setiap 'windmild' yang kesemuanya sarat ketakjuban telah memberi kami penyadaran bahwa dunia sedang tidak baik-baik saja. Maka, Infrastruktur Katastropi (IK) adalah wujud penghormatan kami pada para pegiat sub-kultur berjuluk Hip-Hop; yang lahir sebagai bentuk pembangkangan cerdas atas pengkhianatan kaum intelek di kursi kekuasaan.

IK merupakan partisipasi kongkrit dalam upaya gotong royong mengangkut jasad Hip-Hop yang sekarat di bawah 'trolley' di parkiran setiap Mall, terbujur kaku di gudang gedung parlemen, tewas dengan tangan terikat di dekat proyek tambang, diracun di udara seperti dalam lagu ERK, dilenyapkan demi percepatan pembangunan kejayaan parodi badut berdasi, ber'snap-back', dan bertatto. IK untuk kemudian turut mengkafani dan mengubur Hip-Hop sesuai tuntunan Nabi yang kami rasa (feel) ada dan masih hidup. Entah siapa yang menjadi Nabi Hip-Hop, mungkin semisterius kematian Raden Said, mungkin sesukar memecah teka-teki ketuhanan a la Ibn Arabi, atau semustahil menemukan murninya kebaikan dalam sebotol 'Aqua' yang menganggarkan ratusan juta rupiah dalam merekontruksi pencitraan via 'Television Commercial Break', sebingung Jokowi; apakah akan memidanakan korporat (dengan komisaris para jenderal) pembakar gambut atau tidak.

Namun hal itu tak membuat kami nihil, setidaknya kami berupaya dan tidak hanya mengingat potongan lirik lagu 'Propagandhi' berjudul 'Rock for Sustainable Capitalism'; "Anyone remember when we used to believe, that music was a sacred place and not some fucking bank machine?", tidak peduli dengan Hip-Hop di Indonesia tidak selaris ceramah anti-komunisme Taufiq Ismail, beberapa dari banyak hal yang akan kami sebutkan ini menginjeksi energi untuk menseriusi penggarapan IK, yaitu; ketangguhan kawan-kawan penyaji hingga pengkaji Hip-Hop telah berhasil mengundang arwah Gil-Scott Heron, Kool Herc, untuk merasuki tiap pujangga, bahkan di Indonesia, kawan-kawan tidak berhenti sebatas berkarya, namun juga mengorganisir, merapatkan barisan memihak Kemanusiaan. Seorang legenda Hip-Hop di Indonesia (foto profil bertopeng a la MF-DOOM di salah satu portal musik dan humaniora) juga tidak tanggung-tanggung dalam menjaga kewarasan Hip-Hop di Indonesia, bahkan berhasil menjadi kompor atas kemunculan kembali salah satu legenda untuk mengangkasakan rima.

Terlebih, KRS-ONE masih rajin gerilya mengajarkan Hip-Hop hingga seintim video .3gp dengan penikmatnya, menolak mengalah pada diam dan ketakberdayaan. Hal itu terjadi mungkin karena setahun sebelum Suharto tumbang, KRS-ONE pernah merilis lagu yang judulnya juga dijudulkan untuk buku karya Jeff Chang, seorang jurnalis berdarah Tiong-Hoa; CAN'T STOP WON'T STOP!

Tabik!
Sleep Earth x Prime Manifez

read more

Bangunan rima dan dentuman 'beat box', potongan 'sample' dan gesekan 'scratch', semprotan 'pylox' dan setiap 'windmild' yang kesemuanya sarat ketakjuban telah memberi kami penyadaran bahwa dunia sedang tidak baik-baik saja. Maka, Infrastruktur Katastropi (IK) adalah wujud penghormatan kami pada para pegiat sub-kultur berjuluk Hip-Hop; yang lahir sebagai bentuk pembangkangan cerdas atas pengkhianatan kaum intelek di kursi kekuasaan.

IK merupakan partisipasi kongkrit dalam upaya gotong royong mengangkut jasad Hip-Hop yang sekarat di bawah 'trolley' di parkiran setiap Mall, terbujur kaku di gudang gedung parlemen, tewas dengan tangan terikat di dekat proyek tambang, diracun di udara seperti dalam lagu ERK, dilenyapkan demi percepatan pembangunan kejayaan parodi badut berdasi, ber'snap-back', dan bertatto. IK untuk kemudian turut mengkafani dan mengubur Hip-Hop sesuai tuntunan Nabi yang kami rasa (feel) ada dan masih hidup. Entah siapa yang menjadi Nabi Hip-Hop, mungkin semisterius kematian Raden Said, mungkin sesukar memecah teka-teki ketuhanan a la Ibn Arabi, atau semustahil menemukan murninya kebaikan dalam sebotol 'Aqua' yang menganggarkan ratusan juta rupiah dalam merekontruksi pencitraan via 'Television Commercial Break', sebingung Jokowi; apakah akan memidanakan korporat (dengan komisaris para jenderal) pembakar gambut atau tidak.

Namun hal itu tak membuat kami nihil, setidaknya kami berupaya dan tidak hanya mengingat potongan lirik lagu 'Propagandhi' berjudul 'Rock for Sustainable Capitalism'; "Anyone remember when we used to believe, that music was a sacred place and not some fucking bank machine?", tidak peduli dengan Hip-Hop di Indonesia tidak selaris ceramah anti-komunisme Taufiq Ismail, beberapa dari banyak hal yang akan kami sebutkan ini menginjeksi energi untuk menseriusi penggarapan IK, yaitu; ketangguhan kawan-kawan penyaji hingga pengkaji Hip-Hop telah berhasil mengundang arwah Gil-Scott Heron, Kool Herc, untuk merasuki tiap pujangga, bahkan di Indonesia, kawan-kawan tidak berhenti sebatas berkarya, namun juga mengorganisir, merapatkan barisan memihak Kemanusiaan. Seorang legenda Hip-Hop di Indonesia (foto profil bertopeng a la MF-DOOM di salah satu portal musik dan humaniora) juga tidak tanggung-tanggung dalam menjaga kewarasan Hip-Hop di Indonesia, bahkan berhasil menjadi kompor atas kemunculan kembali salah satu legenda untuk mengangkasakan rima.

Terlebih, KRS-ONE masih rajin gerilya mengajarkan Hip-Hop hingga seintim video .3gp dengan penikmatnya, menolak mengalah pada diam dan ketakberdayaan. Hal itu terjadi mungkin karena setahun sebelum Suharto tumbang, KRS-ONE pernah merilis lagu yang judulnya juga dijudulkan untuk buku karya Jeff Chang, seorang jurnalis berdarah Tiong-Hoa; CAN'T STOP WON'T STOP!

Tabik!
Sleep Earth x Prime Manifez

Twitter soundcloud...katastropi